Minggu, 06 Mei 2012

Mioma Uteri

Mioma uterimerupakan tumor jinak otot rahim, disertai jaringan ikatnya. Mioma uteri berbatas tegas, tidak berkapsul, dan berasal dari otot polos jaringan fibrous, sehingga mioma uteri dapat berkonsistensi padat jika jaringan ikatnya dominan, dan berkonsistensi lunak jika otot rahimnya yang dominan. Mioma uteri biasa juga disebut leiomioma uteri, fibroma uteri, fibroleiomioma, mioma fibroid atau mioma simpel. 

Mioma uteri merupakan tumor jinak yang paling sering ditemukan yaitu satu dari empat wanita selama masa reproduksi yang aktif. Kejadian mioma uteri sukar ditetapkan karena tidak semua mioma uteri memberikan keluhan dan memerlukan tindakan operatif. Walaupun kebanyakan mioma muncul tanpa gejala tetapi sekitar 60% ditemukan secara kebetulan pada laparatomi daerah pelvis.

Mioma uteri yang tidak memberikan gejala klinik yang bermakna paling sering ditemukan pada dekade ke-4 dan ke-5 serta lebih sering pada wanita kulit hitam, dan sekitar 5-10% merupakan submukosa.

Diet dan lemak tubuh juga berpengaruh terhadap resiko terjadinya myoma. Marshall (1998), Sato (1998) dan Chiaffarino menemukan bahwa resiko myoma meningkat seiring bertambahnya indeks massa tubuh dan knsumsi daging dan ham.

Sebagian besar mioma uteri ditemukan pada masa reproduksi, karena diduga berhubungan dengan aktivitas estrogen. Dengan demikian mioma uteri tidak dijumpai sebelum menarke dan akan mengalami regresi setelah menopause, tetapi tidak jika mioma uteri tidak regresi setelah menopause atau bahkan bertambah besar maka kemungkinan besar mioma uteri tersebut telah mengalami degenerasi ganas menjadi sarkoma uteri. 

Bila ditemukan pembesaran abdomen sebelum menarke, hal itu pasti bukan mioma uteri tetapi kemungkinan besar kista ovarium dan resiko untuk mengalami keganasan sangat besar

Etiologi dan Patogenesis
Sampai saat ini belum diketahui penyebab pasti mioma uteri dan diduga merupakan penyakit multifaktorial. Dipercayai bahwa mioma merupakan sebuah tumor monoklonal yang dihasilkan dari mutasi somatik dari sebuah sel neoplastik tunggal. Sel-sel tumor mempunyai abnormalitas kromosom, khususnya pada kromosom lengan 12q13-15. 

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tumor, di samping faktor predisposisi genetik, adalah estrogen, progesteron dan human growth hormone.

1. Estrogen
  • Mioma uteri dijumpai setelah menarke.
  • Seringkali terdapat pertumbuhan tumor yang cepat selama kehamilan dan terapi estrogen eksogen. 
  • Mioma uteri akan mengecil pada saat menopause dan pengangkatan ovarium 
  • Adanya hubungan dengan kelainan lainnya yang tergantung estrogen seperti endometriosis (50%), perubahan fibrosistik dari payudara (14,8%), adenomyosis (16,5%) dan hiperplasia endometrium (9,3%).
  • Mioma uteri banyak ditemukan bersamaan dengan anovulasi ovarium dan wanita dengan sterilitas.
  • 17B hidroxydesidrogenase: enzim ini mengubah estradiol (sebuah estrogen kuat) menjadi estron (estrogen lemah). Aktivitas enzim ini berkurang pada jaringan miomatous, yang juga mempunyai jumlah reseptor estrogen yang lebih banyak daripada miometrium normal.
2. Progesteron
  • Progesteron merupakan antagonis natural dari estrogen. Progesteron menghambat pertumbuhan tumor dengan dua cara yaitu: mengaktifkan 17B hidroxydesidrogenase dan menurunkan jumlah reseptor estrogen pada tumor.
3. Hormon pertumbuhan
  • Level hormon pertumbuhan menurun selama kehamilan, tetapi hormon yang mempunyai struktur dan aktivitas biologik serupa yaitu HPL, terlihat pada periode ini, memberi kesan bahwa pertumbuhan yang cepat dari leiomioma selama kehamilan mingkin merupakan hasil dari aksi sinergistik antara HPL dan Estrogen

Dalam Jeffcoates Principles of Gynecology, ada beberapa faktor yang diduga kuat sebagai faktor predisposisi terjadinya mioma uteri, yaitu :

  • Umur: mioma uteri jarang terjadi pada usia kurang dari 20 tahun, ditemukan sekitar 10% pada wanita berusia lebih dari 40 tahun. Tumor ini paling sering memberikan gejala klinis antara 35-45 tahun.
  • Paritas: lebih sering terjadi pada nullipara atau pada wanirta yang relatif infertil, tetapi sampai saat ini belum diketahui apakan infertilitas menyebabkan mioma uteri atau sebaliknya mioma uteri yang menyebabkan infertilitas, atau apakah kedua keadaan ini saling mempengaruhi.
  • Faktor ras dan genetik : pada wanita ras tertentu, khususnya wanita berkulit hitam, angka kejadian mioma uteri tinggi. 14 Terlepas dari faktor ras, kejadian tumor ini tinggi pada wanita dengan riwayat keluarga ada yang menderita mioma.
  • Fungsi ovarium: diperkirakan ada korelasi antara hormon estrogen dengan pertumbuhan mioma, dimana mioma uteri muncul setelah menarke, berkembang setelah kehamilan dan mengalami regresi setelah menopause.
Pemberian agonis GnRH dalam waktu lama sehingga terjadi hipoestrogenik dapat mengurangi ukuran mioma. Efek estrogen pada pertumbuhan mioma mungkin berhubungan dengan respon mediasi oleh estrogen terhadap reseptor dan faktor pertumbuhan lain.

Terdapat bukti peningkatan produksi reseptor progesteron, faktor pertumbuhan epidermal dan insulin-like growth factor 1 yang distimulasi oleh estrogen. Anderson dkk, telah mendemonstrasikan munculnya gen yang distimulasi oleh estrogen lebih banyak pada mioma daripada miometrium normal dan mungkin penting pada perkembangan mioma. Namun bukti-bukti masih kurang meyakinkan karena tumor ini tidak mengalami regresi yang bermakna setelah menopause sebagaimana yang disangka. Lebih daripada itu tumor ini kadang-kadang berkembang setelah menopause bahkan setelah ooforektomi bilateral pada usia dini.



Lokasi mioma uteri pada uterus


Klasifikasi
Klasifikasi mioma dapat berdasarkan lokasi dan lapisan uterus yang terkena.
1. Lokasi
  • Cerivical (2,6%), umumnya tumbuh ke arah vagina menyebabkan infeksi.
  • Isthmica (7,2%), lebih sering menyebabkan nyeri dan gangguan traktus urinarius.
  • Corporal (91%), merupakan lokasi paling lazim, dan seringkali tanpa gejala.
2. Lapisan Uterus
    Mioma uteri pada daerah korpus, sesuai dengan lokasinya dibagi menjadi tiga jenis yaitu :
   
a. Mioma Uteri Subserosa

  • Lokasi tumor di subserosa korpus uteri dapat hanya sebagai tonjolan saja, dapat pula sebagai satu massa yang dihubungkan dengan uterus melalui tangkai. 
  • Pertumbuhan ke arah lateral dapat berada di dalam ligamentum latum dan disebut sebagai mioma intraligamenter. 
  • Mioma yang cukup besar akan mengisi rongga peritoneal sebagai suatu massa. Perlengketan dengan usus, omentum atau mesenterium di sekitarnya menyebabkan sistem peredaran darah diambil alih dari tangkai ke omentum. Akibatnya tangkai makin mengecil dan terputus, sehingga mioma akan terlepas dari uterus sebagai massa tumor yang bebas dalam rongga peritoneum. Mioma jenis ini dikenal sebagai jenis parasitik.
 Gambaran USG mioma subserous, tampak gambaran 
massa hipoekhoik yang menonjol ke luar dinding uterus


b. Mioma Uteri Intramural
  • Disebut juga sebagai mioma intraepitelial. Biasanya multipel apabila masih kecil tidak merubah bentuk uterus, tetapi bila besar akan menyebabkan uterus berbenjol-benjol, uterus bertambah besar dan berubah bentuknya. 
  • Mioma sering tidak memberikan gejala klinis yang berarti kecuali rasa tidak enak karena adanya massa tumor di daerah perut sebelah bawah. 
  • Kadang kala tumor tumbuh sebagai mioma subserosa dan kadang-kadang sebagai mioma submukosa. Di dalam otot rahim dapat besar, padat (jaringan ikat dominan), lunak (jaringan otot rahim dominan).
 
 Gambaran USG mioma intramural, tampak gambaran 
massa hipoekhoik yang berada di dalam dinding uterus


c. Mioma Uteri Submukosa
  • Terletak di bawah endometrium. Dapat pula bertangkai maupun tidak. Mioma bertangkai dapat menonjol melalui kanalis servikalis, dan pada keadaan ini mudah terjadi torsi atau infeksi. Tumor ini memperluas permukaan ruangan rahim.
  • Dari sudut klinik mioma uteri submukosa mempunyai arti yang lebih penting dibandingkan dengan jenis yang lain. Pada mioma uteri subserosa ataupun intramural walaupun ditemukan cukup besar tetapi sering kali memberikan keluhan yang tidak berarti. 
  • Sebaliknya pada jenis submukosa walaupun hanya kecil selalu memberikan keluhan perdarahan melalui vagina. Perdarahan sulit untuk dihentikan sehingga sebagai terapinya dilakukan histerektomi.

 
 Gambaran USG mioma submukosa, tampak gambaran 
 massa hipoekhoik yang menekan endometrial line


Secara makroskopis terlihat uterus berbenjol-benjol dengan permukaan halus. Pada potongan, tampak tumor berwarna putih dengan struktur mirip potongan daging ikan. Tumor berbatas tegas dan berbeda dengan miometrium yang sehat, sehingga tumor mudah dilepaskan. Konsistensi kenyal, bila terjadi degenerasi kistik maka konsistensi menjadi lunak. Bila terjadi kalsifikasi maka konsistensi menjadi keras.

Secara histologik tumor ditandai oleh gambaran kelompok otot polos yang membentuk pusaran, meniru gambaran kelompok sel otot polos miometrium. Fokus fibrosis, kalsifikasi, nekrosis iskemik dari sel yang mati. Setelah menopause, sel-sel otot polos cenderung mengalami atrofi, ada kalanya diganti oleh jaringan ikat.

  
Pada mioma uteri dapat terjadi perubahan sekunder yang sebagian besar bersifat degenerasi. Hal ini oleh karena berkurangnya pemberian darah pada sarang mioma. Perubahan ini terjadi secara sekunder dari atropi postmenopausal, infeksi, perubahan dalam sirkulasi atau transformasi maligna.

a. Atrofi 
    Setelah menopause dan rangsangan estrogen hilang.

b. Degenerasi hialin (merupakan perubahan degeneratif yang paling umum ditemukan): 
  •     Jaringan ikat bertambah
  •     Berwarna putih dan keras
  •     Disebut “mioma durum”
  •     Degenerasi kistik :
  •     Bagian tengah dengan degenerasi hialin mencair
  •     Menjadi poket kistik
c. Degenerasi membatu (calcareous degeneration) 
  • Terdapat timbunan kalsium pada mioma uteri.
  • Padat dan keras
  • Berwarna putih
d. Red degeneration (carneous degeneration) 
  • Terjadi palings sering pada masa kehamilan.
  • Estrogen merangsang tumbuh kembang mioma.
  • Aliran darah tidak seimbang (edema sekitar tungkai dan tekanan hamil).
  • Terjadi kekurangan darah menimbulkan nekrosis, pembentukan trombus, bendungan darah dalam mioma, warna merah (hemosiderosis/hemofusin).
  • Proses ini biasanya disertai nyeri, tetapi dapat hilang sendiri. Komplikasi lain yang jarang ditemukan meliputi: kelahiran preterm, ruptur tumor dengan perdarahan peritoneal, shock dan bahkan mencetuskan DIC.
e. Degenerasi Mukoid
  • Daerah hyaline digantikan oleh bahan gelatinosa yang lembut. Biasanya terjadi pada tumor yang besar, dengan aliran arterial yang terganggu.
d. Degenerasi Lemak
  • Lemak ditemukan di dalam serat otot polos.
Degenerasi sarkomatous (transformasi maligna)
  • Terjadi pada kurang dari 1% mioma. Kontroversi yang ada saat ini adalah apakah hal ini mewakili sebuah perubahan degeneratif ataukah sebuah neoplasma spontan. 
  • Leiomyosarkoma merupakan sebuah tumor ganas yang jarang terdiri dari sel-sel yang mempunyai diferensiasi otot polos.
Gambaran Klinik
Hampir separuh dari kasus mioma uteri ditemukan secara kebetulan pada pemeriksaan pelvik rutin. Pada penderita memang tidak mempunyai keluhan apa-apa dan tidak sadar bahwa mereka sedang mengandung satu tumor dalam uterus.

Faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya gejala klinik meliputi :
  1. Besarnya mioma uteri.
  2. Lokalisasi mioma uteri.
  3. Perubahan-perubahan pada mioma uteri.
Gejala klinik terjadi hanya pada sekitar 35 % – 50% dari pasien yang terkena. Adapun gejala klinik yang dapat timbul pada mioma uteri:
a. Perdarahan abnormal
  • Merupakan gejala klinik yang sering ditemukan (30%). Bentuk perdarahan yang ditemukan berupa: menoragi, metroragi, dan hipermenorrhea. 
  • Perdarahan dapat menyebabkan anemia defisiensi Fe. 
  • Perdarahan abnormal ini dapat dijelaskan oleh karena bertambahnya area permukaaan dari endometrium yang menyebabkan gangguan kontraksi otot rahim, distorsi dan kongesti dari pembuluh darah di sekitarnya dan ulserasi dari lapisan endometrium.
b. Penekanan rahim yang membesar  
  • Terasa berat di abdomen bagian bawah.
c. Gejala traktus urinarius
  • urine frequency, 
  • retensi urine, 
  • obstruksi ureter dan hidronefrosis.
d. Gejala intestinal:
  • konstipasi obstruksi intestinal.
e. Terasa nyeri karena tertekannya saraf.
  • Nyeri, dapat disebabkan oleh Penekanan saraf, Torsi bertangkai, Submukosa mioma terlahir.

Infeksi pada mioma
Infertilitas, akibat penekanan saluran tuba oleh mioma yang berlokasi di cornu. Perdarahan kontinyu pada pasien dengan mioma submukosa dapat menghalangi implantasi. Terdapat peningkatan insiden aborsi dan kelahiran prematur pada pasien dengan mioma intramural dan submukosa.

Kongesti vena, disebabkan oleh kompresi tumor yang menyebabkan edema ekstremitas bawah, hemorrhoid, nyeri dan dyspareunia.

Gangguan pertumbuhan dan perkembangan kehamilan.
1. Kehamilan dengan disertai mioma uteri menimbulkan proses saling mempengaruhi :
  • Kehamilan dapat mengalami keguguran.
  • Persalinan prematuritas.
  • Gangguan proses persalinan.
  • Tertutupnya saluran indung telur menimbulkan infentiritas.
  • Pada kala III dapat terjadi gangguan pelepasan plasenta dan perdarahan.
  • Biasanya mioma akan mengalami involusi yang nyata setelah kelahiran.


Diagnosis
Diagnosis mima uteri ditegakkan berdasarkan: 
1. Anamnesis 
  • Timbul benjolan di perut bagian bawah dalam waktu yang relatif lama.
  • Kadang-kadang disertai gangguan haid, buang air kecil atau buang air besar.
  • Nyeri perut bila terinfeksi, terpuntir, pecah.
2. Pemeriksaan fisik 
  • Palpasi abdomen didapatkan tumor di abdomen bagian bawah.
  • Pemeriksaan ginekologik dengan pemeriksaan bimanual didapatkan tumor tersebut menyatu dengan rahim atau mengisi kavum Douglasi.
  • Konsistensi padat, kenyal, mobil, permukaan tumor umumnya rata.
Gejala klinis 
  • Adanya rasa penuh pada perut bagian bawah dan tanda massa yang padat kenyal.
  • Adanya perdarahan abnormal.
  • Nyeri, terutama saat menstruasi.
  • Infertilitas dan abortus.
Pemeriksaan luar
  • Teraba massa tumor pada abdomen bagian bawah serta pergerakan tumor dapat terbatas atau bebas.
  • Pemeriksaan dalam
  • Teraba tumor yang berasal dari rahim dan pergerakan tumor dapat terbatas atau bebas dan ini biasanya ditemukan secara kebetulan.
Pemeriksaan penunjang 
  • USG, untuk menentukan jenis tumor, lokasi mioma, ketebalan endometriium dan keadaan adnexa dalam rongga pelvis. 
  • Mioma juga dapat dideteksi dengan CT scan ataupun MRI, tetapi kedua pemeriksaan itu lebih mahal dan tidak memvisualisasi uterus sebaik USG. Untungnya, leiomiosarkoma sangat jarang karena USG tidak dapat membedakannya dengan mioma dan konfirmasinya membutuhkan diagnosa jaringan.
  • Dalam sebagian besar kasus, mioma mudah dikenali karena pola gemanya pada beberapa bidang tidak hanya menyerupai tetapi juga bergabung dengan uterus; lebih lanjut uterus membesar dan berbentuk tak teratur.
  • Foto BNO/IVP pemeriksaan ini penting untuk menilai massa di rongga pelvis serta menilai fungsi ginjal dan perjalanan ureter.
  • Histerografi dan histeroskopi untuk menilai pasien mioma submukosa disertai dengan infertilitas.
  • Laparaskopi untuk mengevaluasi massa pada pelvis.

Komplikasi 
  • Perdarahan sampai terjadi anemia.
  • Torsi tangkai mioma dari  : mioma uteri subserosa dan mioma uteri submukosa.
  • Nekrosis dan infeksi, setelah torsi dapat terjadi nekrosis dan infeksi.

Pengaruh timbal balik mioma dan kehamilan. 
Pengaruh mioma terhadap kehamilan. 
  • Infertilitas.
  • Abortus.
  • Persalinan prematuritas dan kelainan letak.
  • Inersia uteri.
  • Gangguan jalan persalinan.
  • Perdarahan post partum.
  • Retensi plasenta.
Pengaruh kehamilan terhadap mioma uteri 
  • Mioma cepat membesar karena rangsangan estrogen.
  • Kemungkinan torsi mioma uteri bertangkai. 2,3,8,9,10
  • Diagnosis Banding
  • Tumor solid ovarium.
  • Uterus gravid.
  • Kelainan bawaan rahim.
  • Endometriosis, adenomiosis.
  • Perdarahan uterus disfungsional.
Penanganan
Penanganan mioma uteri tergantung pada umur, paritas, lokasi, dan ukuran tumor, dan terbagi atas : 
1. Penanganan konservatif, bila : mioma yang kecil pada pra dan post menopause tanpa gejala. 
Cara penanganan konservatif sebagai berikut :
  • Observasi dengan pemeriksaan pelvis secara periodik setiap 3-6 bulan.
  • Bila anemia, Hb < 8 g% transfusi PRC.
  • Pemberian zat besi.
  • Penggunaan agonis GnRH leuprolid asetat 3,75 mg IM pada hari 1-3 menstruasi setiap minggu sebanyak tiga kali. Obat ini mengakibatkan pengerutan tumor dan menghilangkan gejala. Obat ini menekan sekresi gonadotropin dan menciptakan keadaan hipoestrogenik yang serupa yang ditemukan pada periode postmenopause. Efek maksimum dalam mengurangi ukuran tumor diobservasi dalam 12 minggu. 
  • Terapi agonis GnRH ini dapat pula diberikan sebelum pembedahan, karena memberikan beberapa keuntungan: mengurangi hilangnya darah selama pembedahan, dan dapat mengurangi kebutuhan akan transfusi darah. 
  • Baru-baru ini, progestin dan antipprogestin dilaporkan mempunyai efek terapeutik. Kehadiran tumor dapat ditekan atau diperlambat dengan pemberian progestin dan levonorgestrol intrauterin.
2. Penanganan operatif, bila : 
  • Ukuran tumor lebih besar dari ukuran uterus 12-14 minggu.
  • Pertumbuhan tumor cepat.
  • Mioma subserosa bertangkai dan torsi.
  • Bila dapat menjadi penyulit pada kehamilan berikutnya.
  • Hipermenorea pada mioma submukosa.
  • Penekanan pada organ sekitarnya.


Jenis operasi yang dilakukan dapat berupa :

a) Enukleasi Mioma
Dilakukan pada penderita infertil atau yang masih menginginkan anak atau mempertahankan uterus demi kelangsungan fertilitas. Sejauh ini tampaknya aman, efektif, dan masih menjadi pilihan terbaik. Enukleasi sebaiknya tidak dilakukan bila ada kemungkinan terjadinya karsinoma endometrium atau sarkoma uterus, juga dihindari pada masa kehamilan. Tindakan ini seharusnya dibatasi pada tumor dengan tangkai dan jelas yang dengan mudah dapat dijepit dan diikat. Bila miomektomi menyebabkan cacat yang menembus atau sangat berdekatan dengan endometrium, kehamilan berikutnya harus dilahirkan dengan seksio sesarea.

Kriteria preoperasi menurut American College of Obstetricians Gynecologists (ACOG) adalah sebagai berikut :
  • Kegagalan untuk hamil atau keguguran berulang.
  • Terdapat leiomioma dalam ukuran yang kecil dan berbatas tegas.
  • Apabila tidak ditemukan alasan yang jelas penyebab kegagalan kehamilan dan keguguran yang berulang.
b) Histerektomi
Dilakukan bila pasien tidak menginginkan anak lagi, dan pada penderita yang memiliki leiomioma yang simptomatik atau yang sudah bergejala. Kriteria ACOG untuk histerektomi adalah sebagai berikut: 
Terdapatnya 1 sampai 3 leiomioma asimptomatik atau yang dapat teraba dari luar dan dikeluhkan olah pasien.
 Perdarahan uterus berlebihan :
      • Perdarahan yang banyak bergumpal-gumpal atau berulang-ulang selama lebih dari 8 hari.
      • Anemia akibat kehilangan darah akut atau kronis. 
Rasa tidak nyaman di pelvis akibat mioma meliputi :
      • Nyeri hebat dan akut.
      • Rasa tertekan punggung bawah atau perut bagian bawah yang kronis.
      • Penekanan buli-buli dan frekuensi urine yang berulang-ulang dan tidak disebabkan infeksi saluran kemih. 

c) Penanganan Radioterapi 
  • Hanya dilakukan pada pasien yang tidak dapat dioperasi (bad risk patient).
  • Uterus harus lebih kecil dari usia kehamilan 12 minggu.
  • Bukan jenis submukosa.
  • Tidak disertai radang pelvis atau penekanan pada rektum.
  • Tidak dilakukan pada wanita muda, sebab dapat menyebabkan menopause.
  • Maksud dari radioterapi adalah untuk menghentikan perdarahan.

Selasa, 03 April 2012

Defisit Perawatan Diri


BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
 Pada pasien gangguan jiwa yang dirawat dalam keluarga sering mengalami ketidakpedulian merawat diri yang menyebabkan pasien dikucilkan dalam keluarga maupun masyarakat.
Materi ini akan membahas cara-cara merawat pasien dengan kurang perawatan diri (tidak peduli terhadap perawatan diri) agar pasien dan keluarga mempunyai kemampuan merawat pasien di rumah.
1.2 TUJUAN
Untuk mengetahui pengertian dari deficit perawatan diri,personal heagine, sebab akibat, peredisposisi, presipitasi, cara perawaatan DP, manfaat dari PD.



BAB II
PEMBAHASAN
LAPORAN PENDAHULUAN ( LP )
A.    Masalah Utama
Defisit perawatan diri : mandi, berdandan
B.     Proses terjadinya masalah
1.      Pengertian
Perawatan diri adalah salah satu kemampuan dasar manusia dalam memenuhi kebutuhannya guna memepertahankan kehidupannya, kesehatan dan kesejahteraan sesuai dengan kondisi kesehatannya, klien dinyatakan terganggu keperawatan dirinya jika tidak dapat melakukan perawatan diri ( Depkes 2000).
Defisit perawatan diri adalah gangguan kemampuan untuk melakukan aktifitas perawatan diri (mandi, berhias, makan, toileting) (Nurjannah, 2004).
Menurut Poter. Perry (2005), Personal hygiene adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis, kurang perawatan diri adalah kondisi dimana seseorang tidak mampu melakukan perawatan kebersihan untuk dirinya ( Tarwoto dan Wartonah 2000 ).
2.      Jenis–Jenis Perawatan Diri
  1. Kurang perawatan diri : Mandi / kebersihan
Kurang perawatan diri (mandi) adalah gangguan kemampuan untuk melakukan aktivitas mandi/kebersihan diri.
  1. Kurang perawatan diri : Mengenakan pakaian / berhias.
Kurang perawatan diri (mengenakan pakaian) adalah gangguan kemampuan memakai pakaian dan aktivitas berdandan sendiri.
  1. Kurang perawatan diri : Makan
Kurang perawatan diri (makan) adalah gangguan kemampuan untuk menunjukkan aktivitas makan.
  1. Kurang perawatan diri : Toileting
Kurang perawatan diri (toileting) adalah gangguan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas toileting sendiri (Nurjannah : 2004, 79 ).
3.      Penyebab dari defisit perawatan diri
Menurut Tarwoto dan Wartonah, (2000) Penyebab kurang perawatan diri adalah sebagai berikut :
1.       Kelelahan fisik
2.      Penurunan kesadaran
4.      Akibat dari deefisit perawatan diri

5.       Tanda dan Gejala
Menurut Depkes (2000: 20) Tanda dan gejala klien dengan defisit perawatan diri adalah:
a) Fisik
Badan bau, pakaian kotor.
Rambut dan kulit kotor.
Kuku panjang dan kotor
Gigi kotor disertai mulut bau
penampilan tidak rapi
b) Psikologis
Malas, tidak ada inisiatif.
Menarik diri, isolasi diri.
Merasa tak berdaya, rendah diri dan merasa hina.
c) Sosial
Interaksi kurang.
Kegiatan kurang
Tidak mampu berperilaku sesuai norma.
Cara makan tidak teratur BAK dan BAB di sembarang tempat, gosok gigi dan mandi tidak mampu mandiri.
Data yang biasa ditemukan dalam deficit perawatan diri adalah :
1. Data subyektif
a. Pasien merasa lemah
b. Malas untuk beraktivitas
c. Merasa tidak berdaya.
2. Data obyektif
a. Rambut kotor, acak – acakan
b. Badan dan pakaian kotor dan bau
c. Mulut dan gigi bau.
d. Kulit kusam dan kotor
e. Kuku panjang dan tidak terawat

Dampak yang sering timbul pada masalah personal hygiene.
1. Dampak fisik
Banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang karena tidak terpeliharanya kebersihan perorangan dengan baik, gangguan fisik yang sering terjadi adalah : Gangguan integritas kulit, gangguan membran mukosa mulut, infeksi pada mata dan telinga dan gangguan fisik pada kuku.
2. Dampak psikososial
Masalah sosial yang berhubungan dengan personal hygiene adalah gangguan kebutuhan rasa nyaman, kebutuhan dicintai dan mencintai, kebutuhan harga diri, aktualisasi diri dan gangguan interaksi sosial.



5.Pohon Masalah
            Penurunan kemampuan dan motivasi merawat diri

                        Isolasi sosial : menarik diri

            Defisit perawatan diri : mandi, berdandan

                        Harga diri rendah

6.      Masalah keperawatan yang perlu dikaji
1.      Masalah keperawatan
a.      Penurunan kemampuan dan motivasi merawat diri
b.      Defisit perawatan diri : mandi, berdandan
c.       Isolasi sosial : menarik diri
2.      Data yang perlu dikaji
1). Data Subyektif:
Mengatakan malas mandi, tak mau menyisir rambut, tak mau menggosok gigi, tak mau memotong kuku, tak mau berhias, tak bisa menggunakan alat mandi / kebersihan diri.
2). Data Obyektif:
Badan bau, pakaian kotor, rambut dan kulit kotor, kuku panjang dan kotor, gigi kotor, mulut bau, penampilan tidak rapih, tak bisa menggunakan alat mandi.
7.      Diagnosa keperawatan
1.      Penurunan kemampuan dan motivasi merawat diri
2.      Defisit perawatan diri.


8.      Rencana Tindakan keperawatan
Diagnosa 1 : penurunan kemampuan dan motivasi merawat diri

Tujuan Umun :
Klien dapat meningkatkan minat dan motivasinya untuk memperhatikan kebersihan diri.
Tujuan Khusus
TUK I : Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat.
Kriteria evaluasi
Dalam berinteraksi klien menunjukan tanda-tanda percaya pada perawat:
a.      Wajah cerah, tersenyum
b.       Mau berkenalan
c.        Ada kontak mata
d.       Menerima kehadiran perawat
e.       Bersedia menceritakan perasaannya
Intervensi
a.    Berikan salam setiap berinteraksi.
b.   Perkenalkan nama, nama panggilan perawat dan tujuan perawat berkenalan.
c.    Tanyakan nama dan panggilan kesukaan klien.
d.   Tunjukan sikap jujur dan menepati janji setiap kali berinteraksi.
e.    Tanyakan perasaan dan masalah yang dihadapi klien.
f.      Buat kontrak interaksi yang jelas.
g.     Dengarkan ungkapan perasaan klien dengan empati.
h.   Penuhi kebutuhan dasar klien.



TUK II : klien dapat mengenal tentang pentingnya kebersihan diri.
Kriteria evaluasi
Klien dapat menyebutkan kebersihan diri pada waktu 2 kali pertemuan, mampu menyebutkan kembali kebersihan untuk kesehatan seperti mencegah penyakit dan klien dapat meningkatkan cara merawat diri.
Intervensi
a. Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik.
b. Diskusikan bersama klien pentingnya kebersihan diri dengan cara menjelaskan pengertian tentang arti bersih dan tanda- tanda bersih.
c. Dorong klien untuk menyebutkan 3 dari 5 tanda kebersihan diri.
d. Diskusikan fungsi kebersihan diri dengan menggali pengetahuan klien terhadap hal yang berhubungan dengan kebersihan diri.
e. Bantu klien mengungkapkan arti kebersihan diri dan tujuan memelihara kebersihan diri.
f. Beri reinforcement positif setelah klien mampu mengungkapkan arti kebersihan diri.
g. Ingatkan klien untuk memelihara kebersihan diri seperti: mandi 2 kali pagi dan sore, sikat gigi minimal 2 kali sehari (sesudah makan dan sebelum tidur), keramas dan menyisir rambut, gunting kuku jika panjang.

TUK III : Klien dapat melakukan kebersihan diri dengan bantuan perawat.
Kriteria evaluasi
Klien berusaha untuk memelihara kebersihan diri seperti mandi pakai sabun dan disiram pakai air sampai bersih, mengganti pakaian bersih sehari–hari, dan merapikan penampilan.
Intervensi
a. Motivasi klien untuk mandi.
b. Beri kesempatan untuk mandi, beri kesempatan klien untuk mendemonstrasikan cara memelihara kebersihan diri yang benar.
c. Anjurkan klien untuk mengganti baju setiap hari.
d. Kaji keinginan klien untuk memotong kuku dan merapikan rambut.
e. Kolaborasi dengan perawat ruangan untuk pengelolaan fasilitas perawatan kebersihan diri, seperti mandi dan kebersihan kamar mandi.
f. Bekerjasama dengan keluarga untuk mengadakan fasilitas kebersihan diri seperti odol, sikat gigi, shampoo, pakaian ganti, handuk dan sandal.
TUK IV : Klien dapat melakukan kebersihan perawatan diri secara mandiri.
Kriteria evaluasi
Setelah satu minggu klien dapat melakukan perawatan kebersihan diri secara rutin dan teratur tanpa anjuran, seperti mandi pagi dan sore, ganti baju setiap hari, penampilan bersih dan rapi.
Intervensi
Monitor klien dalam melakukan kebersihan diri secara teratur, ingatkan untuk mencuci rambut, menyisir, gosok gigi, ganti baju dan pakai sandal.
TUK V : Klien dapat mempertahankan kebersihan diri secara mandiri.
Kriteria evaluasi
Klien selalu tampak bersih dan rapi.
Intervensi
Beri reinforcement positif jika berhasil melakukan kebersihan diri.
TUK VI : Klien dapat dukungan keluarga dalam meningkatkan kebersihan diri.
Kriteria evaluasi
Keluarga selalu mengingatkan hal–hal yang berhubungan dengan kebersihan diri, keluarga menyiapkan sarana untuk membantu klien dalam menjaga kebersihan diri, dan keluarga membantu dan membimbing klien dalam menjaga kebersihan diri.
Intervensi
a. Jelaskan pada keluarga tentang penyebab kurang minatnya klien menjaga kebersihan diri.
b. Diskusikan bersama keluarga tentang tindakanyang telah dilakukan klien selama di RS dalam menjaga kebersihan dan kemajuan yang telah dialami di RS.
c. Anjurkan keluarga untuk memutuskan memberi stimulasi terhadap kemajuan yang telah dialami di RS.
d. Jelaskan pada keluarga tentang manfaat sarana yang lengkap dalam menjaga kebersihan diri klien.
e. Anjurkan keluarga untuk menyiapkan sarana dalam menjaga kebersihan diri.
f. Diskusikan bersama keluarga cara membantu klien dalam menjaga kebersihan diri.
g. Diskusikan dengan keluarga mengenai hal yang dilakukan misalnya: mengingatkan pada waktu mandi, sikat gigi, mandi, keramas, dan lain-lain.

Diagnosa 2 : Defisit perawatan diri : mandi, berdandan
Tujuan umum :
klien mampu melakukan perawatan diri: higiene.
Tujuan khusus:
  1. Klien dapat menyebutkan pengertian dan tanda tanda kebersihan diri
    Tindakan :
    1.1. Diskusikan bersama klien tentang pengertian bersih dan tanda tanda bersih
    1.2. Beri reinforcement positif bila klien mampu melakukan hal yang positif.
    2. Klien dapat menyebutkan penyebab tidak mau menjaga kebersihan diri
    Tindakan :
    2.1. Bicarakan dengan klien penyebab tidak mau menjaga kebersihan diri
    2.2. Diskusikan akibat dari tidak mau menjaga kebersihan diri
     
  1. Klien dapat menyebutkan manfaat higiene

Tindakan:
3. 1. Diskusikan bersama klien tentang manfaat higiene
3.2. Bantu klien mengidentifikasikan kemampuan untuk menjaga kebersihan diri
4. Klien dapat menyebutkan cara menjaga kebersihan diri
Tindakan:
4. 1. Diskusikan dengan klien cara menjaga kebersihan diri: andi 2x sehari (pagi dan sore) dengan memakai sabun mandi, gosok gigi minimal 2x sehari dengan pasta gigi, mencuci rambut minimal 2x seminggu dengan sampo, memotong kuku minimal 1x seminggu, memotong rambut minimal 1 x sebulan.
4.2.  Beri reinforcement positif bila klien berhasil
5. Klien dapat melaksanakan perawatan diri higiene dengan bantuan minimal
Tindakan:
5. 1. Bimbing klien melakukan demonstrasi tentang cara menjaga kebersihan diri
5.2. Dorong klien untuk melakukan kebersihan diri dengan bantuan minimal
6. Klien dapat melakukan perawatan diri higiene secara mandiri
Tindakan:
6. 1. Beri kesempatan klien untuk membersihkan diri secara bertahap
6.2. Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya setelah membersihkan diri
6.3 Bersama klien membuat jadwal menjaga kebersihan diri
6.4. Bimbing klien untuk melakukan aktivitas higiene secara teratur



7. Klien mendapat dukungan keluarga
Tindakan:
7. 1. Beri pendidikan kesehatan tentang merawat klien untuk kebersihan diri melalui pertemuan keluarga
7.2. Beri reinforcement positif atas partisipasi aktif keluarga

STRATEGI PELAAKSANAAN PERAWAT (SP)
          SP1 Pasien: Mendiskusikan pentingnya kebersihan diri, cara-cara merawat  
                               diri dan melatih pasien tentang cara-cara perawatan    kebersihan diri
    
ORIENTASI
“Selamat pagi, kenalkan saya suster R”
”Namanya siapa, senang dipanggil siapa?”
”Saya perawat Puskesmas ....,  saya yang akan merawat T?”
“Dari tadi suster lihat T menggaruk-garuk badannya, gatal ya?”
” Bagaimana kalau kita bicara tentang kebersihan diri ? ”
” Berapa lama kita berbicara ?. 20 menit ya...?. Mau dimana...?. disini aja ya. ”
KERJA
“Berapa kali T mandi dalam sehari? Apakah T sudah mandi hari ini? Menurut T apa kegunaannya mandi ?Apa alasan T sehingga tidak bisa merawat diri? Menurut T apa manfaatnya kalau kita menjaga kebersihan diri? Kira-kira tanda-tanda orang yang tidak  merawat diri dengan baik seperti apa ya...?, badan gatal, mulut bau, apa lagi...? Kalau kita tidak teratur menjaga kebersihan diri masalah apa menurut T  yang bisa muncul ?” Betul ada kudis, kutu...dsb.
   
“Apa yang T lakukan untuk merawat rambut dan muka? Kapan saja T menyisir rambut? Bagaimana dengan bedakan? Apa maksud atau tujuan sisiran dan berdandan?”
(Contoh untuk pasien laki-laki)
“Berapa kali T cukuran dalam seminggu? Kapan T cukuran terakhir? Apa gunanya cukuran? Apa alat-alat  yang diperlukan?”. Iya... sebaiknya cukuran 2x perminggu, dan ada alat cukurnya?”. Nanti bisa minta ke perawat ya.
“Berapa kali T makan sehari?
”Apa pula yang dilakukan setelah makan?” Betul, kita harus sikat gigi setelah makan.”
“Di mana biasanya T berak/kencing? Bagaimana membersihkannya?”. Iya... kita kencing dan berak harus di WC, Nach... itu WC di ruangan ini, lalu jangan lupa membersihkan pakai air dan sabun”.
“Menurut T kalau mandi itu kita harus bagaimana ? Sebelum mandi apa yang perlu kita persiapkan? Benar sekali..T perlu menyiapkan pakaian ganti, handuk, sikat gigi, shampo dan sabun serta sisir”. 
”Bagaimana kalau sekarang kita ke kamar mandi, suster akan membimbing T melakukannya. Sekarang T siram seluruh tubuh T termasuk rambut lalu ambil shampoo gosokkan pada kepala T sampai berbusa lalu bilas sampai bersih.. bagus sekali.. Selanjutnya ambil sabun, gosokkan di seluruh tubuh secara merata lalu siram dengan air sampai bersih, jangan lupa sikat gigi pakai odol.. giginya disikat mulai dari arah atas ke bawah. Gosok seluruh gigi T mulai dari depan sampai belakang. Bagus, lalu kumur-kumur sampai bersih. Terakhir siram lagi seluruh tubuh T sampai bersih lalu keringkan dengan handuk. T bagus sekali melakukannya. Selanjutnya T pakai baju dan sisir rambutnya dengan baik.”



TERMINASI
“Bagaimana perasaan T setelah mandi dan mengganti pakaian ? Coba T
sebutkan lagi apa saja cara-cara mandi yang baik yang sudah T lakukan tadi ?”. ”Bagaimana perasaan Tina setelah kita mendiskusikan tentang pentingnya kebersihan diri tadi ? Sekarang coba Tina ulangi lagi tanda-tanda bersih dan rapi”
”Bagus sekali mau berapa kali T mandi dan sikat gigi...?dua kali pagi dan sore, Mari...kita masukkan dalam jadual aktivitas harian. Nach... lakukan ya T..., dan beri tanda kalau sudah dilakukan Spt M ( mandiri ) kalau dilakukan tanpa disuruh, B ( bantuan ) kalau diingatkan baru dilakukan dan T ( tidak ) tidak melakukani? Baik besok lagi kita latihan berdandan. Oke?” Pagi-pagi sehabis makan.


SP 2 Pasien : Percakapan saat melatih pasien laki-laki berdandan:
a)      Berpakaian
b)      Menyisir rambut
c)       Bercukur

ORIENTASI
“Selamat pagi Pak Tono?
“Bagaimana perasaan bpk hari ini? Bagaimana mandinya?”sudah dilakukan? Sudah ditandai di jadual hariannya?
“Hari ini kita akan latihan berdandan, mau dimana latihannya. Bagaimana kalau di ruang tamu ? lebih kurang setengah jam”.

KERJA
“Apa yang T lakukan setelah selesai mandi ?”apa T sudah ganti baju?
“Untuk berpakaian, pilihlah pakaian yang bersih dan kering. Berganti pakaian yang bersih 2x/hari. Sekarang coba bapak ganti baju.. Ya, bagus seperti itu”.
“Apakah T menyisir rambut ? Bagaimana cara bersisir ?”Coba kita praktekkan, lihat ke cermin, bagus…sekali!
 “Apakah T suka bercukur ?Berapa hari sekali bercukur ?” betul 2 kali perminggu
 “Tampaknya kumis dan janggut bapak sudah panjang. Mari Pak dirapikan ! Ya, Bagus !” (catatan: janggut dirapihkan bila pasien tidak memelihara janggut)

TERMINASI
“Bagaimana perasaan bapak setelah berdandan”.
“Coba pak, sebutkan cara berdandan yang baik sekali lagi”..
“Selanjutnya bapak setiap hari setelah mandi berdandan dan pakai baju seperti tadi ya! Mari kita masukan pada jadual kegiatan harian, pagi jam berapa, lalu sore jam berap ?
“Nanti siang kita latihan makan yang baik. Diruang makan bersama dengan pasien yang lain.
SP 3 Pasien: Percakapan melatih berdandan untuk pasien wanita
a)      Berpakaian
b)      Menyisir rambut
c)      Berhias

Peragakan kepada pasangan anda komunikasi dibawah ini
ORIENTASI
“Selamat pagi, bagaimana perasaaan T hari ini ?Bagaimana mandinya?”Sudah di tandai dijadual harian ?
“Hari ini kita akan latihan berdandan supaya T tampak rapi dan cantik. Mari T kita dekat cermin dan bawa alat-alatnya( sisir, bedak, lipstik )
KERJA
“ Sudah diganti tadi pakaianya sehabis mandi ? Bagus….! Nach…sekarang disisir rambutnya yang rapi, bagus…! Apakah T biasa pakai bedak?” coba dibedakin mukanyaT, yang rata dan tipis. Bagus sekali.” “  T,  punya lipstik mari dioles tipis. Nach…coba lihat dikaca!
TERMINASI
“Bagaimana perasaan T belajar berdandan”
“T jadi tampak segar dan cantik, mari masukkan dalam jadualnya. Kegiatan harian, sama jamnya dengan mandi. Nanti siang kita latihan makan yang baik di ruang makan bersama pasien yang lain”.

SP 4 Pasien : Percakapan melatih pasien makan secara mandiri
a)      Menjelaskan cara mempersiapkan makan
b)      Menjelaskan cara makan yang tertib
c)      Menjelaskan cara merapihkan peralatan makan setelah makan
d)      Praktek makan sesuai dengan tahapan makan yang baik.
ORIENTASI
“Selamat siang T,”
” Wow...masih rapi dech T”.
Siang ini kita akan latihan bagaimana cara makan yang baik. Kita latihan langsung di ruang makan ya..!”

KERJA
“Bagaimana kebiasaan sebelum, saat, maupun setelah makan? Dimana T makan?”
“Sebelum makan kita harus cuci tangan memakai sabun. Ya, mari kita praktekkan! “Bagus! Setelah itu kita duduk dan ambil makanan. Sebelum disantap kita berdoa dulu. Silakan T  yang pimpin!. Bagus..
“Mari kita makan.. saat makan kita harus menyuap makanan satu-satu dengan pelan-pelan. Ya, Ayo...sayurnya dimakanya.”“Setelah makan kita bereskan piring,dan gelas yang kotor. Ya betul.. dan kita akhiri dengan cuci tangan. Ya bagus!”  Itu Suster Ani sedang bagi obat, coba...T minta sendiri obatnya.”

TERMINASI
“Bagaimana perasaan T setelah kita makan bersama-sama”.
”Apa saja yang harus kita lakukan pada saat makan, ( cuci tangan, duduk yang baik, ambil makanan, berdoa, makan yang baik, cuci piring dan gelas, lalu cuci tangan.)”
” Nach... coba T lakukan seperti tadi setiap makan, mau kita masukkan dalam jadual?.Besok kita ketemu lagi untuk latihan BAB / BAK yang baik, bagaiman kalau jam 10.00 disini saja ya...!



SP 5 Pasien : Percakapan mengajarkan pasien melakukan BAB/BAK  secara   mandiri
a)      Menjelaskan tempat BAB/BAK yang sesuai
b)      Menjelaskan cara membersihkan diri setelah BAB dan BAK
c)       Menjelaskan cara membersihkan tempat BAB dan BAK

Orientasi
“Selamat pagi T ? Bagaimana perasaan T  hari ini ?” Baik..! sudah dijalankan jadual kegiatannya..?”
“Kita akan membicarakan tentang cara berak dan kencing yang baik?
“ Kira-kira 20 menit ya...T. dan dimana kita duduk? Baik disana dech...!

Kerja
Untuk pasien pria:
“Dimana biasanya Tono berak dan kencing?” “Benar Tono, berak atau kencing yang baik itu di WC/kakus, kamar mandi atau tempat lain yang tertutup dan ada saluran pembuangan  kotorannya. Jadi kita tidak berak/kencing di sembarang tempat ya.....” 
“Sekarang, coba Tono  jelaskan kepada saya bagaimana cara Tono  cebok?” 
“Sudah bagus ya Tono, yang perlu diingat saat Tono cebok adalah Tono membersihkan anus atau kemaluan dengan air yang bersih dan pastikan tidak ada  tinja/air kencing  yang masih tersisa di tubuh Tono”. “Setelah Tono selesai cebok, jangan lupa tinja/air kencing yang ada di kakus/WC dibersihkan. Caranya siram tinja/air kencing tersebut dengan air secukupnya sampai tinja/air kencing itu tidak tersisa di kakus/ WC.  Jika Tono membersihkan tinja/air kencing seperti ini, berarti Tono ikut  mencegah menyebarnya kuman yang berbahaya yang ada pada kotoran/ air kencing”
“Setelah selesai membersihan tinja/air kencing, Tono perlu merapihkan kembali pakaian sebelum keluar dari WC/kakus/kamar mandi. Pastikan resleting celana telah tertutup rapi , lalu cuci tangan dengan menggunakan sabun.”

Untuk pasien wanita:
“Cara cebok yang bersih setelah T  berak yaitu dengan menyiramkan air dari arah depan ke belakang. Jangan terbalik ya, …… Cara seperti ini berguna untuk mencegah masuknya kotoran/tinja yang ada di anus ke bagian kemaluan kita” 
“Setelah Tono selesai cebok, jangan lupa tinja/air kencing yang ada di kakus/WC dibersihkan. Caranya siram tinja/air kencing tersebut dengan air secukupnya sampai tinja/air kencing itu tidak tersisa di kakus/ WC.  Jika Tono membersihkan tinja/air kencing seperti ini, berarti Tono ikut  mencegah menyebarnya kuman yang berbahaya yang ada pada kotoran/ air kencing”
“Jangan lupa merapikan kembali pakaian sebelum keluar dari WC/kakus, lalu cuci tangan dengan menggunakan sabun.”

Terminasi
“Bagaimana perasaan T setelah kita membicarakan tentang cara berak/kencing yang baik?”
“Coba T jelaskan ulang tentang cara BAB?BAK yang baik.” Bagus...!
 “Untuk selanjutnya T bisa  melakukan cara-cara   yang telah dijelaskan tadi ”.
“ Nach...besok kita ketemu lagi, untuk melihat sudah sejauhmana T bisa melakukan jadual kegiatannya.”

2.  Tindakan keperawatan pada keluarga
a.  Tujuan
     1) Keluarga mampu merawat anggota keluarga yang mengalami masalah             
         kurang perawatan diri.

 b. Tindakan keperawatan
Untuk memantau kemampuan pasien dalam melakukan cara perawatan diri yang baik maka Saudara harus melakukan tindakan kepada keluarga agar keluarga dapat meneruskan melatih pasien dan mendukung agar kemampuan pasien dalam perawatan dirinya meningkat. Tindakan yang  dapat Saudara lakukan:
1)      Diskusikan dengan keluarga tentang masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat pasien
2)      Jelaskan pentingnya perawatan diri untuk mengurangi stigma
3)      Diskusikan dengan keluarga tentang fasilitas kebersihan diri yang                                    
      dibutuhkan oleh pasien untuk menjaga perawatan diri pasien.
4)      Anjurkan keluarga untuk terlibat dalam merawat diri pasien dan                                      
      membantu mengingatkan pasien dalam merawat diri (sesuai jadual                                                 
      yang telah disepakati).
5)      Anjurkan keluarga untuk memberikan pujian atas keberhasilan                                        
      pasien dalam merawat diri.
6)      Latih keluarga cara merawat pasien dengan defisit perawatan diri


SP1 Keluarga: Memberikan pendidikan kesehatan pada keluarga tentang   masalah   perawatan diri dan cara  merawat anggota keluarga yang mengalami masalah kurang perawatan diri      
                 
Peragakan kepada pasangan anda komunikasi dibawah ini
ORIENTASI
“Selamat pagi Pak / Bu, saya D, perawat yang merawat  T”
“Apa pendapat Bapak tentang anak Bapak, T?”
“Hari ini kita akan berdiskusi tentang apa masalah yang dialami T dan bantuan apa yang dapat diberikan.”
“Berapa lama waktu Bapak/ Ibu yang tersedia?, bagaimana kalau 20 menit?, mari kita duduk di kantor perawat!”

KERJA
Apa saja masalah yang Bapak/ Ibu rasakan dalam merawat T ?” Perawatan diri yang utama adalah kebersihan diri, berdandan, makan dan BAB/BAK.
 “Perilaku yang ditunjukkan oleh T itu dikarenakan gangguan jiwanya yang membuat pasien tidak mempunyai minat untuk mengurus diri sendiri. Baik...akan saya jelaskan ; untuk kebersihan diri, kami telah melatih T untuk mandi, keramas, gosok gigi, cukuran, ganti baju, dan potong kuku. Kami harapkan Bapak/Ibu dapat menyediakan alat-alatnya. T juga telah mempunyai jadual pelaksanaanya untuk berdandan, karena anak Bapak/ Ibu perempuan, kami harapkan dimotivasi sehabis mandi untuk sisiran yang rapi, pakai bedak,dan lipstik. Untuk makan, sebaiknya makan bersama keluarga dirumah, T telah mengetahui lanhkah-langkahnya : Cuci tangan, ambil makanan, berdoa, makan yang rapih, cuci piring dan gelas, lalu cuci tangan. Sebaiknya makan pas jam makan obat, agar sehabis makan langsung makan obat. Dan untuk BAB?BAK, dirumah ada WC Bapak/Ibu ?Iya..., T juga sudah belajar BAB/BAK yang bersih. Kalau T  kurang motivasi  dalam merawat diri apa yang bapak lakukan?
 Bapak juga perlu mendampinginya pada saat merawat diri sehingga dapat diketahui apakah T sudah bisa mandiri atau mengalami hambatan dalam melakukannya.” 
”Ada yang Bapak/Ibu tanyakan?”

TERMINASI
Bagaimana perasaan Pak J  setelah kita bercakap-cakap?”
“Coba Pak J sebutkan lagi apa saja yang harus diperhatikan dalam membantu anak Bapak, T dalam merawat diri.”
” Baik nanti kalau Bapak/Ibu besuk bisa ditanyakan pada T.”
“Dan dirumah nanti, cobalah Bapak/Ibu mendampingi dan membantu T saat membersihkan diri.”
“Dua hari lagi kita akan ketemu dan Bapak/Ibu akan saya dampingi untuk memotivasi T dalam merawat diri.”



SP 2 Keluarga : Melatih keluarga cara merawat pasien
  

   Peragakan kepada pasangan anda komunikasi dibawah ini:

ORIENTASI

“Assalamualaikum Bapak/Ibu sesuai janji kita dua hari yang lalu kita sekarang ketemu lagi”
“Bagaimana Bapak/Ibu, ada pertanyaan tentang cara merawat yang kita bicarakan dua hari yang lalu?”
“Sekarang kita akan latihan cara-cara merawat tersebut ya pak?”
“Kita akan coba disini dulu, setelah itu baru kita coba langsung keT ya?”
“Berapa lama ada waktu Bapak/Ibu?”

KERJA
“Sekarang anggap saya adalah T, coba bapak praktekkan cara memotivasi T untuk mandi, berdandan, buang air, dan makan”
“Bagus, betul begitu caranya”
 “Sekarang coba praktekkan cara memberikan pujian kepada T”
“Bagus, bagaimana kalau cara memotivasi T minum obat dan melakukan kegiatan positifnya sesuai jadual?”
“Bagus sekali, ternyata bapak dan ibu sudah mengerti cara merawat T”
“Bagaimana kalau sekarang kita mencobanya langsung kepada T?”
(Ulangi lagi semua cara diatas langsung kepada pasien)

TERMINASI
“Bagaimana perasaan bapak dan ibu setelah kita berlatih cara merawat T ?”
“Setelah ini coba bapak dan ibu lakukan apa yang sudah dilatih tadi setiap kali bapak dan ibu membesuk T”
 “Baiklah bagaimana kalau dua hari lagi bapak dan ibu datang kembali kesini dan kita akan mencoba lagi cara merawat T sampai bapak dan ibu lancar melakukannya”
“Jam berapa bapak dan ibu bisa kemari?”
“Baik saya tunggu, kita ketemu lagi di tempat ini ya pak, bu”




SP 3 Keluarga : Menjelaskan perawatan lanjutan kepada keluarga
       Peragakan kepada pasangan anda komunikasi dibawah ini

ORIENTASI

“Selamat pagi Bapak/Ibu hari ini, saya akan mengakhiri kunjungan saya bagaimana kalau kita bicarakan jadual T selama dirumah”
“Bagaimana pak, bu, selama bapak dan ibu membesuk apakah sudah terus dilatih cara merawat T?”
“Nah sekarang mari kita bicarakan jadual di rumah tersebut disini saja?”
“Berapa lama bapak dan ibu punya waktu.?”

KERJA
“Pak,Bu...,ini jadual kegiatan T, coba perhatikan apakah dapat dilaksanakan?
“ Pak / Bu..jadual  yang telah dibuat tolong dilanjutkan di rumah, baik jadual aktivitas maupun jadual minum obatnya”
“Hal-hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah perilaku yang ditampilkan oleh anak ibu dan bapak selama di rumah. Kalau misalnya T menolak terus menerus untuk makan, minum, dan mandi serta menolak minum obat atau memperlihatkan perilaku membahayakan orang lain, maka segera hubungi Suster S di Puskesmas Ingin Jaya, puskesmas terdekat dari rumah ibu dan bapak, ini nomor telepon puskesmasnya: (0651) 446xxx.
Selanjutnya suster S yang akan membantu memantau perkembangan T selama di rumah”

TERMINASI

“ Bagaimana Pak, Bu...ada yang belun jelas ?. Ini jadual harian T untuk dibawa pulang.” Dan ini surat rujukan untuk perawat K di puskesmas Indrapuri.”
“ Jangan lupa kontrol ke Puskesmas sebelum obat habis, atau ada gejala-gejala yang tampak.”


KASUS :
Pasien mengatakan malas untuk mandi dan berdandan, merasa lebih nyaman dengan kondisi seperti ini ( tidak mau mandi). Pasien mengatakan bila mandi rasanya dingin dan badan kaku semua. Pasien tampak rambut acak-acakan dan banyak kutu, kuku panjang dan hitam. Kulit kotor, tampak malas untuk menyisir rambut dang anti pakayan harus disuruh petugas.
Jawaban Pertanyaan :
1.      Data yang perlu ditambahkan pada kasus
DS :
-          Pasien sudah 3 x masuk RSJ dengan alasan tidak mau mandi
-          Pasien mengatakan malas mandi dan berdandan sebab pasangan saya selingkuh dengan orang lain, buat apa saya mandi dan cantik.
          DO :
-          Bila diminta mandi klien marah – marah
-          Keadaan pasien tampak bau,
-          kebutuhan mandi pasien selalu dimandikan oleh petugas dengan dimotivasi bahkan sambil dipaksa

2.      Analisa Data
Data
Problem
Etiologi
DS:
-          Pasien mengatakan malas untuk mandi dan berdandan, merasa lebih nyaman dengan kondisi seperti ini ( tidak mau mandi)
-          Pasien mengatakan bila mandi rasanya dingin dan badan kaku semua
-          Pasien sudah 3 x masuk RSJ dengan alasan tidak mau mandi
-          Pasien mengatakan malas mandi dan berdandan sebab pasangan saya selingkuh dengan orang lain, buat apa saya mandi dan cantik.

DO:
-          Bila diminta mandi klien marah – marah
-          Keadaan pasien tampak bau,
-          kebutuhan mandi pasien selalu dimandikan oleh petugas dengan dimotivasi bahkan sambil dipaksa
-          Pasien tampak rambut acak-acakan dan banyak kutu, kuku panjang dan hitam.
-          Kulit kotor, tampak malas untuk menyisir rambut dang anti pakayan harus disuruh petugas.

-           
Defisit perawatan diri :  mandi,berdandan dan berpakayan
Penurunan Motivasi

3.      Gambar pohon masalah

Penurunan kemampuan dan motivasi merawat diri
 

            Isolasi sosial : menarik diri

            Defisit perawatan diri : mandi, berdandan

            Harga diri rendah

4.      Diagnosa Kperawatan Utama
Defisit perawatan diri : mandi, berdandan dan berpakayan
5.      Intervensi pada kasus utama
Tujuan umum :
klien mampu melakukan perawatan diri: higiene.
Tujuan khusus:
1. Klien dapat menyebutkan pengertian dan tanda tanda kebersihan diri
Tindakan :
1.1. Diskusikan bersama klien tentang pengertian bersih dan tanda tanda bersih
1.2. Beri reinforcement positif bila klien mampu melakukan hal yang positif.

2. Klien dapat menyebutkan penyebab tidak mau menjaga kebersihan diri
Tindakan :
2.1. Bicarakan dengan klien penyebab tidak mau menjaga kebersihan diri
2.2. Diskusikan akibat dari tidak mau menjaga kebersihan diri

3. Klien dapat menyebutkan manfaat higiene
Tindakan:
3. 1. Diskusikan bersama klien tentang manfaat higiene
3.2. Bantu klien mengidentifikasikan kemampuan untuk menjaga kebersihan diri

4.         Klien dapat menyebutkan cara menjaga kebersihan diri
Tindakan:
4. 1. Diskusikan dengan klien cara menjaga kebersihan diri: andi 2x sehari (pagi dan sore) dengan memakai sabun mandi, gosok gigi minimal 2x sehari dengan pasta gigi, mencuci rambut minimal 2x seminggu dengan sampo, memotong kuku minimal 1x seminggu, memotong rambut minimal 1 x sebulan.
4.2. Beri reinforcement positif bila klien berhasil

5. Klien dapat melaksanakan perawatan diri higiene dengan bantuan minimal
Tindakan:
5. 1. Bimbing klien melakukan demonstrasi tentang cara menjaga kebersihan diri
5.2. Dorong klien untuk melakukan kebersihan diri dengan bantuan minimal

6.Klien dapat melakukan perawatan diri higiene secara mandiri
Tindakan:
6. 1. Beri kesempatan klien untuk membersihkan diri secara bertahap
6.2. Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya setelah membersihkan diri
6.3 Bersama klien membuat jadwal menjaga kebersihan diri
6.4. Bimbing klien untuk melakukan aktivitas higiene secara teratur

7. Klien mendapat dukungan keluarga
Tindakan:
7. 1. Beri pendidikan kesehatan tentang merawat klien untuk kebersihan diri melalui pertemuan keluarga
7.2. Beri reinforcement positif atas partisipasi aktif keluarga
6.      Jenis TAK yang cocok pada kasus
PRE PLANING T A K ( Terapi Aktivitas Kelompok )
DEVISIT PERAWATAN DIRI

A. LATAR BELAKANG
Manusia merupakan mahluk sosial yang membutuhkan interaksi dengan orang lain. Dalam diri manusia terdapat beberapa komponen konsep diri diantaranya yaitu: harga diri, peran, gambaran diri. Manusia yang mempunyai konsep diri tinggi cenderung tidak mempunyai  masalah dalam interaksi dengan orang lain, tetapi manusia yang mengalami konsep diri yang rendah cenderung mengalami masalah dalam sosialisasi atau interaksi dengan orang lain.

B. TUJUAN
1. Klien dapat melakukan aktivitas perawatan diri secara adekuat
2. Klien dapat mengerti pentingnya merawat diri

C. METODE PELAKSANAAN
1.      Diskusi
2.      Permainan

D. SASARAN
Klien yang sudah dapat berinteraksi dengan orang lain berjumlah 8 orang yaitu : rudi, wardoyo, ma’mun, abdul, yanto, andi, heri, santo.

E. STRATEGI PELAKSANAAN
Hari/Tgl     : Sabtu, 30 Maret 2012
Waktu       : Pukul 09.00 – 09.30 wib
Tempat      : Ruang pertemuan Ruang 12

F. PENGORGANISASIAN
Pemandu                           : Dodi Gabriel
Observer                            : Kuntari Septiana
Fasilitator                         : Agustina Hermin W, Agatha, Gita, Cecilia, Desi, Manda
Anggota    : Klien berjumlah 8 orang

G. SETTING TEMPAT

2
 
3
 
1
 
F
 
L
 
5
 
4
 
 



6
 
7
 
8
 
F
 
O
 
F
 
 





KETERANGAN :
1 S/D 8         :  Klien                                   
F                   : Fasilitator
O                  :  Observer                  
L                   :  Leader


H. LANGKAH-LANGKAH
  1. Persiapan
a.       Memilih klien sesuai indikasi, yaitu klien dengan gangguan konsep diri: harga diri rendah.
b.      Membuat kontrak dengan klien
c.       Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
  1. Orientasi
a.       Memberikan salam terapeutik
b.      Menanyakan perasaan klien saat ini
c.       Kontrak :
§  Menjelaskan tujuan kegiatan yaitu bercakap-cakap tentang hal positif diri sendiri.
§  Menjelaskan aturan main sebagai berikut:
1.      Jika ada klien yang akan meninggalkan tempat harus meminta ijin pada terapis
2.      Lama kegiatan 45 menit
3.      Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai dengan selesai

3. Tahap Kerja
a)      Terapi memperkenalkan diri.
b)      Terapis membagikan kertas dan spidol kepada klien.
c)      Terapis meminta tiap klien menulis pengalaman yang tidak menyenangkan.
d)     Terapis memberi pujian atas peran serta klien.
e)      Terapis membagikan kertas yang kedua.
f)       Terapis meminta tiap klien menulis hal positif tentang diri sendiri: kemampuan yang dimiliki, kegiatan yang biasa dilakukan di rumah dan di rumah sakit.
g)      Terapis meminta klien membacakan hal positif yang sudah ditulis secara bergiliran sampai semua klien mendapatkan giliran.
h)      Terapis memberi pujian pada setiap peran serta klien.

  1. Tahap terminasi
a.       Evaluasi
§  Menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK
§  Memberi pujian atas keberhasilan peserta
b.      Rencana tindak lanjut
§  Terapis meminta klien menulis hal positif lain yang belum tertulis.
c.       Kontrak yang akan datang
§  Menyepakati kegiatan berikutnya
§  Menyepakati waktu dan tempat


1.      Evaluasi proses
o   Kegiatan TAK: melihat menggambar dimulai dengan persiapan yaitu membuat pre planning TAK dan mengajukan kepada pembimbing klinik, melakukan kontrak dengan klien serta meminta ijin kepada kepala ruangan 12 satu hari sebelum kegiatan dimulai..
o   Pada saat pelaksanaan: kegiatan diawali dengan fase orientasi yaitu mengingatkan kontrak dengan klien, memperkenalkan diri. Kemudian dilanjutkan dengan fase kerja dimana pada sesi I semua peserta diberi kesempatan menggambar dan memberikan pendapat masing-masing, serta menanggapi pendapat klien lain. 
o   Kegiatan TAK: menggambar dapat berlansung sampai  selesai.
o   Semua peserta hadir tepat waktu.


2.      Evaluasi struktur
o   Leader:
§  Dapat memandu jalannya TAK dengan baik.
§  Dapat memotivasi peserta untuk memberikan pendapatnya.
o   Co-leader:
§  Dapat meyesuaikan musik dengan TAK yang ada.
§  Dapat menghidupkan suasana.
o   Fasilitator
§  Dapat memotivasi klien dampingannya mematuhi aturan main yang ada.
§  Dapat memotivasi klien dampingannya untuk memberikan pendapat.

o   Peserta
§  Semua peserta tampak gembira dan bersemangat mengikuti kegiatan TAK ini.
3.      Evaluasi hasil
§  80 % ( 4 orang) peserta dapat memberikan pendapat dengan benar.
§  60  % (4 orang) peserta dapat memberikan tanggapan atas pendapat peserta lain.
§  80 % (7 orang) peserta mengikuti kegiatan sampai selesai. 

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Perawatan diri adalah salah satu kemampuan dasar manusia dalam memenuhi kebutuhannya guna memepertahankan kehidupannya, kesehatan dan kesejahteraan sesuai dengan kondisi kesehatannya, klien dinyatakan terganggu keperawatan dirinya jika tidak dapat melakukan perawatan diri.
Pada pasien gangguan jiwa yang dirawat dalam keluarga sering mengalami ketidakpedulian merawat diri yang menyebabkan pasien dikucilkan dalam keluarga maupun masyarakat, sehingga kita sebagai perawat berhak membantu dan memotivasi pasien agar lebih memperhatikan perawatan dirinya.

3.2. Saran
1.      Sebagai mahasiswa/mahasiswi calon perawat agar dapat lebih memperdalam ilmu serta wawasan mengenai gangguan jiwa pada klien dengan deficit perawatan diri dan dapat mengaplikasikanya dalam dunia keperawaatan.
2.      Bagi masyarakat agar lebih peduli dan berpartisipasi dalam menjaga kesehatan dan jangan mengabaikan tanda dan gejala yang muncul sebagai penyakit yang wajar tetapi segera periksakan kedokter atau pelayanaan kesehatan yang terdekat utuk mencegah komplikasi dan prognosis yang buruk.


DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, Lynda Juall. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Jakarta : EGC.
Depkes. 2000. Standar Pedoman Perawatan jiwa.
Kaplan Sadoch. 1998. Sinopsis Psikiatri. Edisi 7. Jakarta : EGC
Keliat. B.A. 2006. Modul MPKP Jiwa UI . Jakarta : EGC
Keliat. B.A. 2006. Proses Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC
Nurjanah, Intansari S.Kep. 2001. Pedoman Penanganan Pada Gangguan Jiwa. Yogyakarta : Momedia
Perry, Potter. 2005 . Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Jakarta : EGC
Rasmun S. Kep. M 2004. Seres Kopino dan Adaptasir Toors dan Pohon Masalah Keperawatan. Jakarta : CV Sagung Seto
Stuart, Sudden, 1998. Buku Saku Keperawatan Jiwa edisi 3. Jakarta : EGC
Santosa, Budi. 2005. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda, 2005 – 2006. Jakarta : Prima Medika.
Stuart, GW. 2002. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi 5. Jakarta: EGC.
Tarwoto dan Wartonah. 2000. Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta.
Townsend, Marry C. 1998. Buku Saku Diagnosa Keperawatan pada Perawatan Psikiatri edisi 3. Jakarta. EGC